Inspirasi dari Nabi yang Menggadaikan Bajunya Ke Non Muslim

Ketika Nabi Muhammad Saw berada di Kota Madinah, umat Islam waktu itu tidak hidup secara homogen. Mereka hidup berdampingan dengan umat lain yang berbeda secara keyakinan.

Di sana ada orang-orang keturunan Arab dari suku Aus dan Khazraj. Keduanya merupakan dua suku yang saling bermusuhan karena masalah kekuasaan.

Selain itu ada juga orang-orang Nasrani dan Yahudi dari berbagai kalangan. Kondisi Madinah saat itu tidak jauh berbeda dengan wilayah kita, Indonesia, dari segi demografisnya.

tidak melihat konteks

Dengan kondisi masyarakat yang heterogen, mungkin sebagian orang menyangka kalau Nabi akan bersikap otoriter terhadap non muslim, atau akan memerangi serta memaksa mereka untuk memeluk agama Islam.

Ini sebagaimana yang dianut sebagian kelompok yang menerapkan ayat-ayat dan hadis-hadis yang turun dalam situasi perperangan secara serampangan, tanpa memperhatikan konteks dan sabab wurud (latar belakang historis) yang menyebabkan kemunculannya.

Misalnya saja hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Abdullah ibn Umar. Rasul pernah bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi umat manusia hingga mereka bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah”.

Atau Surah al-Taubah ayat kelima yang menyatakan bila bulan-bulan haram (Zulqa’dah, Zulhijjah, Muharram dan Rajab) telah berlalu, maka umat Islam diperintahkan memerangi kaum musyrik hingga mereka bertaubat dan menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim seperti salat dan puasa.

Padahal ayat dan hadis tersebut berbicara dalam konteks perperangan, bukan dalam situasi damai. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Kerukunan Umat Perspektif al-Qur’an dan Hadis pernah menyampaikan, Islam tidak pernah menyuruh umatnya untuk membunuh orang lain hanya karena perbedaan agama.

Benar dalam Islam ada perang, namun tidak pernah disebabkan oleh agama. Ini karena faktor-faktor sosial yang membuat umat Islam harus mempertahankan eksistensinya dengan cara berperang. Dan ayat serta hadis di atas turun dalam kondisi yang seperti ini.

Baca juga: Keren Nih, 4 Pesan Utama Piagam Madinah.

muamalah nabi

Lantas bagaimana sikap Nabi terhadap non muslim yang hidup di sekitarnya pada situasi damai? Banyak riwayat yang menyebutkan Nabi menjalin hubungan yang harmonis dengan mereka, serta tolong-menolong dalam hal muamalah sehari-hari, tapi bukan dalam masalah akidah dan ibadah.

Ketika orang-orang non muslim Quraisy mengajak Nabi untuk menyembah tuhan mereka selama setahun dan mereka akan menyembah Allah selama setahun, maka Nabi dengan tegas  mengucapkan “lakum dinukum waliyadin” (Bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Ungkapan ini adalah wujud komitmen menjaga akidah Islam.

Sementara itu dalam masalah muamalah sehari-hari, Nabi bersikap sangat toleran. Salah satu bentuk muamalah yang pernah dilakukan adalah, beliau pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi bernama Abu Syahm, demi untuk membeli gandung yang akan beliau makan bersama keluarganya.

Sampai wafatnya, Nabi tidak sempat melunasi hutang tersebut hingga pada akhirnya Ali ibn Abi Thalib yang membayarkannya. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Kisah ini menunjukkan bahwa Islam dan kaum muslimin tidak seekslusif yang disangkakan oleh sebagian pihak, khususnya dalam berhubungan dengan pihak yang berbeda keyakinan dengan mereka.

Penulis: Yunal Isra

Artikel ini bisa dibaca di islami.co dan disunting atas izin redaksi.

Artikel lain:

Milenial Pemaaf itu Keren! Contoh Saja Kisah Nabi Ini

Kisah Mertua Nabi yang Beragama Yahudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *