Gak Perlu Ragu Jual-Beli dengan Siapa Pun, Asal…

Punya keraguan saat harus melakukan jual-beli dengan non muslim? Hal ini selayaknya tidak menjadi sebuah keraguan, karena Nabi Muhammad SAW sudah memberi contoh yan baik.

Misalnya saja saat pernah menggadaikan baju perangnya kepada seorang Yahudi yang bernama Abu Syahm. Sampai wafatnya, Nabi tidak sempat melunasi hutang tersebut hingga pada akhirnya Ali ibn Abi Thalib yang membayarkannya. Kisah tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

Ibn Hajar al-‘Atsqalani dalam kitabnya Fath al-Bari menjelaskan bahwa riwayat tersebut merupakan bukti kebolehan umat Islam untuk bermuamalah dengan non muslim, termasuk dalam masalah jual beli.

Jual-Beli yang Baik

Namun ia membatasi kebolehan tersebut dengan beberapa syarat, yaitu selama barang yang ditransaksikan itu halal (tidak benda yang diharamkan seperti khamar dan babi).

Kemudian ada jaminan traksaksi tersebut tidak akan mempengaruhi keimanan kaum muslimin, serta non muslim yang dimaksud bukan dari golongan kafir harbi, artinya dari kalangan non muslim yang memerangi umat Islam.

Selama syarat ini terpenuhi, maka jual beli dengan mereka hukumnya adalah sah, tidak terlarang sama sekali.

Kaedah yang digunakan dalam hal ini menurut Badran Abu al-‘Aynain dalam karyanya al-‘Alaqah al-Ijtima’iyyah bayn al-Muslimin wa Ghair al-Muslimin adalah :

Segala traksaksi jual beli yang dibolehkan bagi kaum muslimin untuk melakukannya, maka hal itu juga dibolehkan bagi selain mereka (non muslim). Sebaliknya segala traksaksi yang diharamkan bagi umat Islam untuk melakukannya, maka hal tersebut juga diharamkan bagi mereka kecuali (dalam transaksi) khamar dan babi”.

Milenial Pemaaf itu Keren! Contoh Saja Kisah Nabi Ini.

Ibnu Hajar juga menggunakan hadis tersebut sebagai dalil kebolehan bertransaksi dengan orang yang sebagian besar hartanya berasal dari usaha atau benda yang tidak halal.

Namun ketika hendak bertransaksi, umat Islam tidak diharuskan untuk mengetahui sumber harta mereka. Hal ini juga dipahami dari sikap Nabi yang tidak mempertanyakan sumber harta yang dimiliki oleh Abu Syahm.

bersifat dharuri

Adapun hikmah kebolehan transaksi antara muslim dan non muslim ini adalah karena jual beli dipandang sebagai salah satu cara dalam memenuhi kebutuhan manusia.

Maka pembolehannya -termasuk dengan non muslim- merupakan sebuah hal yang bersifat dharuri (penting) dan sulit untuk dihindari.

Keberadaan agama pada dasarnya adalah untuk menjaga lima prinsip dasar yang selalu ada seiring keberadaan manusia, yaitu menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan keturunan. Sehingga perbedaan agama antara dua orang yang bertransaksi tidak menghalangi kebolehan dan kesahannya.

Selain menggadai, Nabi juga pernah menerima hibah yang diberikan oleh seorang pendeta Yahudi bernama Mukhairik. Ia pernah ikut sama-sama membela Nabi dalam perperangan Uhud hingga akhirnya meninggal dunia akibat sabetan perang para musuh Islam.

Ia sempat berwasiat bahwa kalau dia meninggal dunia, semua hartanya diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Ketika ia meninggal, Nabi menerima pemberiannya dan mewakafkannya untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin. Kisah ini diceritakan secara apik oleh Ibn Hisyam dan Ibn Sa’ad dalam kitab sirah keduanya.

Setidaknya dua kisah ini, cukup bagi kita untuk menunjukkan bahwa Islam tidak seekslusif yang disangkakan oleh sebagian pihak, khususnya dalam berhubungan dengan pihak yang berbeda keyakinan.

Penulis:

Artikel ini bisa dibaca di islami.co dan disunting atas izin redaksi.

Artikel lain:

Klarifikasi Prasangka sebagai Pembuka Gerbang Toleransi.

Kamu Punya Saudara Tiri? Intip Cerita Inspiratif Ini, Ya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *