Mualaf Belajar Toleran

Menyampaikan dakwah adalah kewajiban. Namun, tujuan dakwah Islam bukanlah memaksa seorang non-Muslim masuk Islam, melainkan menyampaikan pesan dengan metode pendekatan terbaik. Suksesnya suatu dakwah selanjutnya ditentukan oleh Allah.

Kira-kira begitulah kalimat yang paling saya kenang saat berjumpa dengan Bahrul Ulum. Sosok teman saya ini tidak pernah memaksa untuk mengikuti ajaran agamanya.

Kesadaran memeluk Islam timbul karena interaksi alamiah saya dengan dirinya dan teman-teman beragama Islam lain. Tidak sekali pun bujukan bahkan paksaan saya terima untuk pindah agama. Saya sendiri berusaha mencari tahu dan membuktikannya dengan kesadaran ingin belajar.

Ketika resmi jadi mualaf, saya seolah memulai kehidupan dari nol. Apa saya menyesal? Tentu setiap pilihan ada risiko. Dibalik itu, saya senang berproses dengan kepercayaan ini. Tiga tahun lebih saya berinteraksi dengan teman-teman pemeluk agama Islam, hingga saya yakin dan memutuskan untuk bergabung.

Mengapa memilih Islam?

Pertanyaan ini kerap dilontarkan oleh teman-teman dari agama sebelumnya. Tentu sulit memberi jawaban memuaskan, sebab Islam menyentuh inti pikiran dan perasaan saya dengan sesuatu yang gaib. Dalam artian, interaksi dengan teman-teman beragama Islam dengan sendirinya membentuk karakter Muslim di diri saya. Karakter seperti apa? Jawabnya cukup sederhana, saya lebih ramah menghargai pendapat seseorang sebagaimana ajaran dalam agama Islam.

Apa saya tidak memperoleh wujud karakter ini dari agama pertama saya? Tentu saya juga memperolehnya. Namun, Islam terasa beda dan pegangannya begitu kuat untuk dibantahkan, karena semua yang saya lakukan ada dalilnya. Termaktub dalam Al-Quran yang kebesarannya sudah teruji.

Teman-teman Islam silih berganti mengungkap kebenaran dengan dalil, yang secara tidak langsung disitulah akar ketertarikan saya ingin tahu kebesaran Al-Quran, hingga memutuskan jadi mualaf.

Dugaan bahwa Muslim itu teroris dan radikal terbantahkan ketika saya berjumpa dengan teman-teman Islam yang mengimplementasikan panji-panji toleran. Seperti pernyataan Bahrul Ulum di awal tulisan ini. Dari pribadinya, saya melihat Islam diamalkan dengan pendekatan sederhana tanpa tekanan.

Baca juga: Klarifikasi Prasangka sebagai Pembuka Gerbang Toleransi.

Pendekatan Islam yang Sederhana

Al-Quran terbukti begitu indah dan sejuk dipelajari, disamping karena mengandung nilai-nilai sastra yang puitis dan metaforis, tetapi maknanya tidak hilang dari konteks teksnya.

Muhammad Abid Al-Jabiri dalam bukunya berjudul Agama, Negara, dan Penerapan Syariah mengatakan, bahwa berbagai perintah dan larangan yang ada dalam Al-Quran dan Sunnah, bukanlah hukum-hukum arbitrer yang tidak bersandar pada logika apapun, tetapi ia adalah hukum-hukum yang mengandung rasionalitas dan hikmah.

Saya betah belajar Islam dengan bertemu teman-teman yang jiwanya bersih. Berpengetahuan luas tentang agama Islam. Ketika saya resmi menjadi mualaf, mereka mengutip surah Al-Baqarah ayat 256 yang membuat saya mengerti arti lain dari toleran. Al-Quran mengajarkan umat Islam untuk mengutamakan terciptanya perdamaian hingga timbul kasih sayang antar umat.

Dari teman-teman Muslim, saya menjumpai karakter toleran yang pada dasarnya adalah usaha kebaikan, menghargai kemajemukan agama yang bertujuan mencapai kerukunan, baik internal maupun eksternal agama. Pilihan jadi mualaf, karena saya benar-benar takjub, Islam mencintai toleran.

Penulis: Alfian Dippahatang

Tulisan ini merupakan 10 Esai Terbaik dalam Kompetisi Esai Milenial Islami 2017.

Artikel lain:

Milenial Muslim Mau Menjaga Tempat Ibadah Agama Lain? Baca Ini, Yuk.

Inspirasi dari Nabi yang Menggadaikan Bajunya Ke Non Muslim.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *