Awal Semula: Berbeda Itu Berlian

 Oleh: Rizki Abdul Gofur
Finalis Esai Kompetisi Milenial Islami 2018

Kita pernah terlintas sebuah pemikiran mengapa kita diciptakan berbeda, mulai dari fisik, jenis kelamin, pola berpikir, terlahir dari latarbelakang keluarga kaya atau miskin, atau mungkin karakter dan suku yang diturunkan pada kita sekarang ini. Apa yang menjadikan kita dapat saling mengenal satu sama lain walau kita berbeda, baik dari segi keluarga, warna kulit, maupun karakter kita? Sudahkah kita menyadari dan bersyukur atas nikmat Allah Swt. dalam menciptakan alam semesta dan seluruh isinya yang serba berbeda ini?

Pendeknya, semua yang berkaitan dengan fisik, jenis kelamin, pola berpikir, terlahir dari keluarga kaya atau miskin, bahkan karakter dan suku yang berbeda karena kita adalah manusia yang diciptakan oleh Allah Swt. dengan sempurna. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Mu’min ayat 64 yang artinya, “Allah yang telah menjadikan bumi bagimu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentukmu kemudian membaguskan rupamu serta memberimu rezeki dengan sebagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu. Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam”. Bagaimanapun kita terlahir sebagai manusia yang memiliki banyak perbedaan agar kita lebih bersyukur atas apa yang telah diberikan dari-Nya.

Saya pernah menjelajahi beberapa tempat di daerah tempat tinggal saya yang ada di Banyuwangi yakni di Kecamatan Songgon. Saya bertemu dengan penduduk desa yakni Desa Sempol dan Desa Bayu yang terdiri dari 3 agama berbeda, yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Mereka hidup layaknya kehidupan dalam masyarakat pada umumnya yang terdiri dari 1 agama atau keyakinan mayoritas. Namun, apa yang membuat mereka tentram, aman dan damai di dalam desa mereka itu? Jawabnya sederhana, yakni kerukunan antar umat beragama, mereka secara praktik telah melakukan hal #meyakinimenghargai bahwa kepercayaan seseorang itu adalah urusan pribadi masing-masing dan bukan bagian dari urusan desa.

Ini sudah membuktikkan bahwa kehidupan beragama tidak menuntut untuk selalu memiliki prioritas agar dapat saling menjalin komunikasi bahu-membahu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan agama mayoritas di dalamnya. Mereka perlu berkonsisten dalam menjalani kehidupan dengan menghargai dan meyakini sepenuh hati bahwa apa yang telah menjadi kepercayaannya mampu mewujudkan kehidupan yang lebih baik dan dapat berinteraksi dengan mereka yang berbeda kepercayaan tanpa ragu-ragu.

Islam tak mengajarkan seseorang untuk membenci, menilai buruk, atau mencap suatu agama diluar agama Islam karena dalam Al-Qur’an Surah Al-Kafirun ayat 6 yang menyatakan bahwa, “Untukmu agamamu, untukku agamaku”. Hal yang telah turun temurun disampaikan oleh ajaran Islam bahkan secara langsung masyarakat sekitar kita akan mengerti bahwa kita hidup di dunia seolah-olah berada di antara kumpulan berlian yang menyala tiap sudutnya jika dibiaskan cahaya.

Setiap berkas cahaya dari berlian-berlian itu akan selalu terpancar indah jika dilihat dari sisi yang lain walau diputar berapapun derajatnya. Berlian itu akan tetap bersinar terang selagi cahaya meneranginya dan itulah sebabnya mengapa kita perlu meyakini dan menghargai semua yang hidup di dunia ini memiliki banyak perbedaan, namun jika kita dapat menyikapinya, semua perbedaan itu seolah-olah adalah berlian dengan cahaya indahnya.

Oleh karena itu, kesadaran umat manusia akan adanya perbedaan membuat kita perlu sedikit peka untuk dapat menyikapi itu semua. Keyakinan yang kita miliki sebagai umat Islam adalah semata-mata untuk mendapat ridho dan meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT., dan menjadi masyarakat yang menghargai setiap kehidupan manusia yang berbeda keyakinan dari kita. Apapun itu, awal semula kita adalah manusia yang hidup di bumi ini sebagai insan bagaikan berlian yang selalu bersinar terang disetiap ukuran yang dimilikinya.

Foto: Karya Rachmad Hidayat (Finalis Foto Kompetisi Milenial Islami 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *