Generasi Cerdas Bijaksana

Oleh: Dian Indah Aulia Harahap
Finalis Esai Kompetisi Milenial Islami 2018

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling bertakwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti.”  [QS. Al-Hujurat : 13]

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui.” QS. Ar-Rum : 22

Pada hakikatnya Allah  menciptakan manusia penuh perbedaan agar memahami Kebesaran Allah, bagi setiap mereka yang berakal dan berpikir. Perbedaan agama mutlak merupakan salah satu kebijakan Tuhan. Setiap manusia memiliki cara pandang terhadap suatu masalah berdasarkan kadar pemahaman, ilmu yang ia miliki dan pengalaman terhadap suatu hal tersebut. Seperti kata ustad Adi Hidayat, Lc,MA “ Jika sesorang itu cerdas, dan berilmu maka ia tidak akan mempertentangkan keberagaman dan perbedaan yang ada, tentu dengan ilmu dan pemahaman ia akan mampu menyikapi perbedaan dengan baik, tanpa mencela satu sama lain”

Kemunculan Generasi Alpha, yang didefinisikan oleh Reis (2017) adalah sekelompok orang yang lahir mulai dari 2010. Generasi Alpha didefinisikan sebagai generasi yang mirip dari Generasi Z namun lebih maju, paling berpendidikan, paling cerdas dari segala generasi yang ada di dunia. Metode pembelajaran yang dapat memfasilitasi perkembangan kedua generasi diatas adalah pemanfaatan gadget sebagai media belajar. Namun nyatanya gadget disalah gunakan, dari gadgetlah banyak timbul permasalahan, saling menghakimi, cyber bullying, menjadikan individu yang intoleran, dll.

Untuk menjunjung tinggi toleransi maka kita perlu memahami sifat generasi saat ini, diperlukan sistem pendidikan yang dirancang untuk menyeimbangkan kemampuan emosional, spiritual, dan intelektual pelajar, serta menanamkan karakter supaya generasi muda dapat produktif, berkontribusi, memerankan perannya masing-masing dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Satu hal yang paling penting, Mengajak dengan memberi contoh baik hingga yang lain pun tergerak untuk mengikuti.

Tentang yakin, meyakini. Bukankah kita tidak akan bisa menghargai apapun jika kita tidak meyakininya? Meyakini bahwa jawaban dari uraian soal matematika jawabannya harus menggunakan integral, misalnya. Meyakini bahwa penciptaan langit tanpa tiang dan hamparan bumi yang luas hanya Allah lah yang mampu. Meyakini bahwa semua yang ada dimuka bumi akan kembali pulang kepada penciptanya. Meyakini bahwa kau benar benar mencintai seseorang. Dengan Meyakini, Kuharap kita bisa saling menghargai. #MeyakiniMenghargai, Menghargai apapun yang ada disekitar kita.

Jika muncul pertanyaan apakah kita harus meyakini ajaran ummat lain selain islam agar bisa menghargai? oh, tentu ya. Kau harus meyakini bahwa ajaran mereka berbeda dengan kita, pemahamannya berbeda, cara ibadahnya, mereka memiliki cara tersendiri yang harus kita yakini. Begitulah cara mereka. Kita harus menghargainya. Sama dengan hubungan antar organisasi Islam yang ada di Indonesia, misalnya. Jika terjadi perbedaan pendapat, berijtihadlah, berdialog dan bermusyawarah. Bukan dengan menyebarkan fitnah melalui media.

Masing-masing kelompok memiliki ciri khas, memiliki cara bergerak yang berbeda-beda. Ada kelompok Islamis yang mencoba memperjuangkan agama Islam melalui jalur politik. Ada kelompok Islamis yang mencoba memperjuangkan agama Islam melalui jalur pendidikan. Ada kelompok Islamis yang mencoba memperjuangkan agama Islam melalui pemberdayaan masyarakat desa. Ada kelompok Islamis yang mencoba memperjuangkan agama Islam melalui aksi-aksi demonstrasi dan tegas dalam menjaga kesyar’ian lingkungan.

Bukankah dalam berislam kita dituntut untuk menjadi sosok muslim yang kaffah yang menjadikan perbedaan menjadi kekuatan yang bisa disinergikan bersama untuk membentuk kehidupan beragama yang sangat indah. Saling melengkapi dan hidup berdampingan. Ibarat batu bata, Gunakanlah batu bata itu untuk membuat jembatan yang mempersatukan, menghubungkan umat satu sama lain.

Muslim yang taat..

Bijaksanalah, cerdaslah dalam bersikap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *