Megahnya Khimar Agungnya Kalbu

 
Oleh: Anisa Sari
Finalis Esai Kompetisi Milenial Islami 2018

Islam dan Indonesia. Dua rumpun yang telah menyatu padu, tak bisa terpisahkan. Islam sebagai agama Rahmatan Lil A’lamiin, yaitu rahmat bagi seluruh alam. Begitu juga Indonesia, negara kesatuan yang diperjuangkan oleh para pendiri bangsa dengan karakter saling menghargai yang tinggi. Terbukti dengan adanya kejadian revisi dalam bunyi Pancasila sila pertama. Dalam hal itu, Indonesia dengan mayoritas umat beragama islam tetap menjunjung tinggi Bhineka Tunggal Ika. Mewajibkan seluruh rakyat Indonesia #meyakinimenghargai atas perbedaan yang berwarna.

Indonesia menurut data survey merupakan negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia. Jadi tak heran jikalau banyak menemukan para muslimah berkhimar. Mulai dari yang sesuai syariat hingga yang hanya menutupi sebagian kepala. Khimar atau yang biasa disebut hijab seringkali menjadi bahan perdebatan. Terkadang, dipandang sebelah mata apabila dipakai dalam wilayah minoritas muslim.

Indonesia warga dengan mayoritas muslim, namun bagaimanakah dengan minoritas? Berdasarkan landasan Bhineka Tunggal Ika, Indonesia menaungi hak-hak rakyatnya dalam beragama. Begitulah keinginan para pejuang bangsa agar generasi penerusnya memiliki sikap toleransi yang tinggi. Tetapi apakah masih tertanam hingga sekarang?

Pada zaman milenial ini, di dalam suatu wilayah manusia hidup saling bermuamalah dengan keberagaman yang mereka miliki. Bermacam-macam suku, agama, dan kebiasaan. Contohnya, seorang muslimah selalu mengenakan khimar karena itu suatu kewajiban nya. Tetapi, ada pula wanita beragama islam namun belum menutup dengan sempurna auratnya. Lalu, bagaimanakah kita sebagai seorang muslimah menghadapi hal tersebut? Tentu bukan dengan menjatuhkan, memandang rendah, dan menganggap diri kita paling mulia. Karena sesungguhnya kadar manusia dimata Allah Swt adalah sama.

Hanya iman dan ketakwaaan yang membedakannya, Allah Yang Maha Mengetahui. Apakah kita perlu menegurnya? Jika itu bisa, lakukanlah dengan sopan santun. Jika malah menimbulkan suatu pertikaian lebih baik usah. Lalu, apakah cara terbaiknya? Cara terbaiknya adalah dengan mendoakan agar dia mendapatkan rahmat serta hidayah dari Allah Swt. Karena hanya Allah yang bisa membolak-balik kan hati manusia.

Dari sudut kejadian lain, jikalau seorang muslimah bertemu dengan non muslim dengan pakaian yang terbuka. Seperti peristiwa sebelumnya, kita harus tanamkan dalam hati kalau hanya Allah lah Yang Maha Benar. Kita tidak perlu beranggapan negatif, karena itu sudah termasuk tradisi gaya berpakaian mereka. Jangan pula menjauhinya. Bermuamalah itu diperbolehkan asalkan sesuai dengan kadarnya. Cukup mendoakan dan teguhkan iman dalam hati kita.

Dikenang dalam suatu peristiwa dimana perkampungan seorang muslim para militan islam menyerang minoritas non muslim hingga berteriak-teriak. Disini terlihat jelas sebuah karakter intoleransi yang harus dihapuskan dari karakter bangsa. Islam mengajarkan agar kita menghargai sesama seperti tertulis dalam surah Al-Kafiirun. Sudah seharusnya kita melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan nya.

Sebagai seorang muslimah, dengan makin megahnya khimar kita maka haruslah semakin agung pula hati kita. Islam tidak pernah mengajarkan fanatisme. Keseimbangan dunia dan akhirat adalah utama, tidak baik berlebihan pada salah satunya. Bukan berarti semakin berkibar khimar kita maka kita adalah orang yang paling beriman. Hati yang agung dalam menghadapi berbagai perbedaan. Menerima dengan lapang dada dan dalam ridha-Nya. Mari lukiskan kehidupan dalam warna keimanan dalam naungan kanvas keislaman.

           

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *