Adanya Agama Memanusiakan Manusia

Oleh: Hilmalia Salma Rahmawati
Finalis Esai Kompetisi Milenial Islami 2018

Agama seringkali dikambinghitamkan dalam banyak konflik yang terjadi antar umat manusia selama ratusan tahun. Agama menjadi sebuah persoalan yang selalu diperdebatkan dan dipermasalahkan dalam kehidupan. Agama seakan-akan menjadi sebuah pembatas antara satu orang dengan yang lain ataukah kelompok satu dengan kelompok yang lain.

Adanya agama juga dinilai sebagai pemicu pertikaian, tindakan kekerasan, radikalisme, maupun fanatisme dikarenakan berbeda keyakinan. Karena konflik agama Israel menyerang Palestina bertahun-tahun, karena perbedaan agama etnis Rohingya dibantai dan diusir dari tanah kelahirannya, karena perbedaaan agama rasa nasionalisme dan ikatan persatuan Indonesia hampir putus karena adanya saling olok-mengolok. Lantas, apakah benar hidup manusia akan damai bila agama tidak ada? Apakah Tuhan begitu kejam menciptakan agama untuk manusia agar saling berperang?

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Bila dikritisi kembali dalam agama sebagai sistem yang mengatur tata keimanan dan cara beribadah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa (Hablumminallah) dan sebagai kaidah yang mengatur pola hubungan antara pergaulan manusia (Hablumminannas).

Di Indonesia agama telah diatur dalam UUD 1945 yang dinyatakan bahwa, setiap penduduk diberikan kebebasan untuk beragama Pemerintah Indonesia secara resmi hanya mengakui enam agama, yakni Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.

Dalam agama Islam, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan petunjuk bagi hamba-hambanya yang tertuang dalam Al-Qur’an, surat Al-Ma’idah ayat 8–10 mengenai perintah berperilaku adil dengan cara tidak melibatkan perasaan benci terhadap kaum tertentu ataupun kaum yang berbeda untuk berperilaku adil. Di dalam Al-Quran dan hadist, manusia diatur supaya bersikap toleransi, bermusyawarah untuk mufakat, jujur, saling menghormati, dan menyayangi setiap mahluk.

Dalam agama Protestan diterangkan dalam Alkitab, Roma 12 : 17 yang didalamnya mengandung perintah untuk jangan membalas kejahatan dengan kejahatan serta anjuran selalu berbuat baik kepada setiap orang.

Dalam agama Katolik perintah untuk kedamaian tertuang pada 10 firman Allah yang beberapa isinya menganjurkan kepada umatnya untuk menghormati orang tua, dilarang membunuh, tidak boleh berbuat cabul, dilarang mencuri, dilarang berdusta atau singkat katanya dilarang melanggar hak orang lain.

Dalam agama Hindu hal-hal kedamaian banyak disinggung. Salah satunya ayat yang terkandung di dalam Artarwa Veda yang berisikan anjuran untuk saling mengasihi, seperti kasih seekor sapi kepada anaknya, bertutur kata yang manis kepada orang lain, seperti istri yang berucap kepada suaminya, “Janganlah saling membenci antara saudara dan rukunlah untuk mencapai suatu tujuan.”

Dalam agama Buddha kedamaian sangat dijunjung tinggi. Salah satunya dijelaskan dalam Dasa Punnakiriyavatthu yang terdiri dari empat kata yang salah satunya adalah Dasa yang bisa diartikan sebagai beramal, memberi, membantu, dan menolong makhluk lain tanpa mengharapkan balasan dari mereka yang telah menerima dana kita. Dana dapat diberikan dalam bentuk materi atau barang dan non materi.

Dalam agama Khonghucu hubungan harmonis antara setiap manusia dikenal dalam Ngo Lun (Lima Norma Kesopanan dalam Masyarakat) yang didalamnya menekankan perasaan berkawan atau timbal balik, penanaman rasa simpati dan kerja sama dalam setiap hubungan sosial.

Bila ditarik garis merah hampir keseluruhan agama yang diakui di Indonesia memiliki pesan yang sama. Pesan untuk selalu hidup harmonis antara sesamanya, baik dengan cara saling tolong-menolong, bertutur kata yang baik dan sopan, peka dan simpati dengan orang lain, hormat-menghormati antara satu dengan yang lain. Indonesia adalah negara yang beragama dengan landasan hukum tertinggi adalah Pancasila, yaitu dengan ta’at dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan meyakini apa yang diperintahkan Tuhan ditiap masing-masing agama adalah kebenaran yang harus dilakukan sebagai bentuk ibadah.

Dengan didorong dan diusung oleh empat sila yang menjunjung nilai keharmonisan antara setiap manusia, mulai diharumkan berperilaku adil, saling tolong-menolong dalam kesatuan untuk mencapai tujuan, bermusyawarah untuk mufakat, serta kesamaan hak yang adil bagi seluruh rakyat. Dalam pancasila ada sebuah semboyan persatuan yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” atau yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu sehingga dapat disimpulkan bahwa negara Indonesia tidak bisa lepas dari agama, rakyat atau manusia perlu agama.

Tidak ada satu pun agama yang menyuruh berperang atau saling membenci. Agama bukan alasan untuk memunculkan konflik, agama justru yang menyatukan setiap umat manusia. Setiap agama memerintahkan umatnya untuk toleransi, hidup rukun, saling tolong-menolong, menghormati, serta bertutur kata yang baik kepada setiap orang walaupun mereka berbeda keyakinan atau agama.

Agama mengatur berbudi pekerti, bersikap, tata krama, dan lain sebagainya sehingga agama justru mengangkat derajat manusia lebih tinggi daripada makhluk yang lain. Dengan kata lain, agama ada justru memanusiakan manusia. #meyakinimenghargai

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *