Hitam Bukan Kelam, Kami Lahir dari Perbedaan

Oleh: Fathul Khair Tabri
Finalis Esai Kompetisi Milenial Islami 2018

 

“Tidak ada yang lahir membenci orang lain karena warna kulitnya, atau latar belakangnya, atau agamanya. Orang harus belajar untuk membenci dan jika mereka dapat belajar untuk membenci, maka mereka dapat diajarkan untuk mencintai, karena cinta datang lebih alami ke jantung manusia.”

-Nelson Mandela-

Bagaimana bila seandainya Tuhan melahirkan kita semua dengan satu bentuk. Warna kulit, postur tubuh dan juga agama yang sama. Bagaimana bila Tuhan menganugrahi seluruh insan dengan paras yang indah, mata seperti rubi, alis selengkung sabit atau dagu yang delima. Mungkin kita tidak akan mengenal arti dari perbedaan, saling menghargai dan menerima kekurangan di sekeliling kita. Damai tidak selalu lahir dari persamaan, sebab dari perbedaanlah yang mengajarkan kita untuk melihat ada yang ‘berbeda’ di sekeliling kita.

Sebagai mahasiswa, membuka ‘mata’ dengan jeli adalah sebuah keharusan, mencoba peka dengan orang yang berbeda di lingkungan kita, dan saya berusaha mencobanya. Tahun ini menjadi sebuah anugerah besar bagi saya, sebab melalui program Writingthon Kementrian Komunikasi dan Informatika (KOMINFO) saya terpilih mewakili provinsi Sulawesi Selatan untuk ikut andil dalam menyukseskan Asian Games bersama 33 delegasi setiap provinsi di Indonesia. Kegiatan tersebut memiliki output berupa membuat sebuah buku mengenai Asian Games yang ditulis langsung oleh seluruh finalis.

Satu pertanyaan kecil yang mengetuk pikiran saya. Sudah siapkah saya untuk berkolaborasi bersama orang yang berbeda? Saya meyakinkan diri bahwa Islam yang saya peluk adalah damai kepada semua. Siapa pun itu, suku yang berbeda atau pun agama. Begitulah saya mencoba meyakinkan diri. Benar saja dalam kegiatan tersebut saya bertemu dengan orang yang memiliki perbedaan yang begitu kuat, warna kulit dan agama.

Sebagaimana apa yang terjadi di benua Afrika di mana warna kulit menjadi penghalang dalam persatuan. Dimana Apartheid sebuah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan. Nelson Mandela menjadi salah satu penentang dalam Apartheid karena pemisahan kulit hitam dan kulit putih adalah sebuah keburukan yang lahir untuk memecah perdamaian di dunia, namun syukurlah itikad baik dari Nelson Mandela pun berhasil dan dapat dirasakan kedamaiannya.

Bukanlah Islam bila tidak toleran, batinku meyakini. Begitu pula di Indonesia yang merupakan salah satu negara besar karena perbedaan-perbedaan yang ada di dalamnya. Dalam Quranul Karim Surah Al-Hujurat ayat 10 di mana Allah telah menjelaskan kepada kita bahwa maksud diciptakannya berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya untuk saling mengenal. Al Quran pun sebagai pedoman hidup terus memberikan arahan kepada kita bahwa silaturahim atau mengikat persaudaaran tanpa membedakan adalah hal yang terpuji.

Dalam kegiatan Writingthon saya memiliki banyak kenalan dari berbeda keyakinan, Hindu, Kristen Advent, Kristen Katolik dan tentu Islam. Kami banyak berdiskusi seputar ibadah yang kami yakini, pandangan terhadap #meyakinimenghargai ataupun keberagaman Indonesia. Tak satupun arah pembicaraan kami yang menyinggung keyakinan satu sama lain, semuanya tetap satu dan percaya bahwa perbedaan adalah keniscayaan.

Di suatu waktu ketika shalat fardu telah masuk, seseorang menegur saya dari belakang. Ia menepuk pundak saya. ‘sudah masuk waktu shalat, kamu tidak shalat? aku menoleh ke belakang, kulihat sahabatku yang beragama non Islam menegurku. Saya hanya mengangguk, sedikit tersenyum dan berterimakasih sudah mengingatkan.

Begitupun ketika hari Sabtu, ketika umat Kristen Advent beribadah, saya mengingatkan sahabatku untuk menunaikan ibadahnya. Lagi-lagi ia tersenyum, namun di balik senyumnya telah tergambar jelas ungkapan terima kasih yang indah. Serta seorang sahabat yang berasal dari Papua yang banyak menceritakan kebudayaan yang ada di Papua, interaksi dan juga kehidupan di sana. Tiba di akhir pertemuan kami, dalam kegiatan tersebut, saya menanyakan kembali sebuah kalimat singkat yang pernah ia sampaikan. Kalimat itu seperti azimat yang menusuk ke ulu hati. Sahabat saya berkata,

Hitam bukan kelam

Keriting bukan rusak

Tapi hitam dan keriting adalah martabat!

(Hugo Warami)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *