Islam untuk Indonesia

Oleh: Ria Siti Juairiah
Finalis Esai Kompetisi milenial Islami 2018

Agama atau dalam arti lain disebut keyakinan dan kepercayaan. Yakin dalam Islam juga berarti percaya. Percaya bahwa Islam menjadi nama ruh kita sejak adzan pertama kali disuarakan ke telinga. Percaya bahwa Allah SWT sebagai satu-satunya Tuhan semesta alam. Dan percaya bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang diterima dan diridhai Allah SWT.

Juga bisa diartikan sebagai rasa yakin bahwa Al-Qur’an dan hadis adalah penuntun hidup yang paling baik. Bahwa Rasulullah adalah teladan hidup yang paling sempurna. Dan bahwa seluruh hidup dan mati kita hanya akan bermuara pada Allah Yang Maha Kuasa.

Meski saat ini Islam jadi sebuah misteri. Dimana disatu belahan dunia dia dianggap sebagai agama yang penuh kasih sayang dan kelembutan, sedangkan dibelahan dunia lain dianggap sebagai sebuah ketakutan dan ancaman.

Pengeboman, penembakan dan penyerangan tiba-tiba. Tak jarang aksi-aksi tersebut mengatasnamakan Islam. Hal ini tak jarang membuat banyak orang –bahkan pemeluknya sendiri- bertanya-tanya, agama seperti apakah Islam itu sebenarnya. Banyak yang mencari tau hingga akhirnya terjerumus oleh hasutan terorisme. Banyak yang abai hingga akhirnya terjauh dari syariat Islam itu sendiri.

Tapi tak ada keraguan lagi jika kita meyakini tujuan agama Islam yang sebenarnya.

Islam itu damai. Islam itu lembut. Islam itu adil. Islam tidak memaksakan kekerasan pada orang-orang yang tak memeluknya. Sebab islam mengajarkan satu hal dalam Al-Qur’an:

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.” [Q.S Al-Baqarah (2):256].

Maka alangkah baiknya jika pemeluknya lebih berfokus pada dakwah demi penyebaran agama dan bukan berfokus pada aksi pelenyapan pada orang-orang yang tak seagama. Karna hanya dengan begitu, kedamaian diatas keberagaman bisa tercipta.

Sikap toleransi yang berujung dengan menghargai agama lain itulah yang sangat dibutuhkan dalam hidup yang serba ragam seperti di Indonesia ini. Indonesia tak bisa hanya dimiliki oleh orang Islam saja. indonesia tak bisa hanya dimajukan dan dihuni oleh orang Islam saja. sebab Indonesia tak hanya berawal dari Islam saja.

Sebagai negara dengan penduduk Islam terbanyak didunia, wajar saja jika dibeberapa bidang Indonesia sangat menjunjung tinggi hukum Islam. Seperti standar makanan misalnya, atau didirikannya lembaga pemerintahan berbasis islam seperti MUI dan Badan Zakat Nasional. Meski pada kenyataannya, Indonesia tak hanya memiliki Islam. Perubahan pada sila pertama pancasila dari “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” ke “Ke-Tuhanan Yang Maha Esa” menunjukkan bahwa Indonesia mengakui agama lainnya di negerinya sendiri.

Kristen, Katolik, Budha dan Hindu telah menjadi bagian dari keharmonisan antar umat di Indonesia bahkan sebelum kemerdekaan dikumandangkan. Selama itu, tak ada yang saling menjatuhkan, tak ada yang saling menyingkirkan sebab indonesia diperjuangkan oleh semua rakyat indonesia tak pandang ras atau agama.

Mungkin rakyat Indonesia perlu untuk diingatkan kembali bahwa John Lie yang menyelundupkan barang kebutuhan Indonesia selama masa penjajahan dengan menembus blokade laut belanda yang ketat adalah orang kristen, bahwa Prof. Dr. Ir. Herman Johannes yang membantu dalam merakit senjata melawan penjajah adalah orang katolik, bahwa Jenderal Gatot Subroto dan R.A. Kartini adalah orang Budha dan I Gusti Ngurah Rai yang mengerahkan 1.372 pejuang dibawah nama pasukan Ciung Wenara adalah orang Hindu.

Mungkin rakyat Indonesia perlu diingatkan kembali bahwa Ir. Soekarno pernah menyerukan “Aku akan memuji apa yang baik, tak pandang sesuatu itu datangnya dari komunis, islam, atau seorang Hopi Indian” dan dibuktikan dengan memilih Johannes Leimana sebagai wakil perdana mentri pada tahun 1966.

Atau mari ambil satu contoh lagi dari pencapaian besar-besaran yang baru terjadi di Indonesia belakangan ini. Negara ini baru saja mendapatkan hadiah spesial untuk ulang tahun yang ketujuh puluh tiganya. Sebuah pembuktian harga diri negara yang disalurkan melalui penyelenggaraan Asian Games 2018. Pesta penyambutan yang meriah, ramah dan aman membuat Indonesia menjadi sasaran pujian dari berbagai negara. Ditambah lagi dengan peningkatan prestasi olahraga Indonesia yang melaju pesat. Melampaui target peringkat 10 besar dan melaju kuat diposisi ke 4 dari 45 negara peserta.

Saat itu, ribuan relawan yang terlibat tak hanya dari satu suku saja dan ratusan atlet yang berjuang pun bukan dari satu agama saja. Jawa, dayak, minang, sunda dan suku lainnya juga ikut menyalurkan kontribusinya. Begitu juga dengan Islam, Budha, Hindu, dan Katolik yang turut berjuang mati-matian untuk harga diri bangsanya.

Semuanya bersatu, karena itulah Indonesia merdeka 74 tahun yang lalu. Semuanya bersama, karena itulah tahun ini pun Indonesia masih percaya diri melawan tantangan 44 negara lainnya. Dan semua itu selalu diawali dengan menghargai perbedaan sesama.

Jika dengan #meyakinimenghargai sesama bisa menciptakan perdamaian bagi Indonesia dan dunia, maka alangkah baiknya jika seluruh umat Islam menjaganya bersama-sama. Sebab jauh diatas itu semua, Islam adalah agama yang damai dan sangat mencintai perdamaian.

Dan itu semua berawal dari kita, generasi milenial Islam Indonesia.

Foto: Karya M.Alghazali Putuhena (Finalis Foto Kompetisi Milenial Islami 2018)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *