Menggunakan Kacamata dengan Bijak

 
oleh: annisa siti fathonah
finalis esai kompetisi milenial islami 2018

Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang dibangun dengan jerih payah para pendiri bangsa dengan menanamkan karakter yang kuat, untuk diturunkan kepada para penerus. Penanaman karakter ini ibarat fondasi dari sebuah bangunan guna membangun bangsa ini ke depannya. Para pendiri bangsa Indonesia bahu membahu mendirikan negeri sehingga menjadi bangsa yang besar.

Karakter bangsa Indonesia yang penuh perjuangan pada masa itu telah mengantarkan bangsa ini menjadi bangsa yang berkarakter, kokoh, dan kuat. Para pendiri bangsa bahu membahu, bersatu padu dalam warna-warni keberagaman demi memperkuat bangsa agar tak kalah diinjak-injak oleh bangsa lain yang berusaha membobrokan negeri ini.

Bangsa kita memiliki warna yang beragam bersatu menjadi harmoni yang indah untuk dipandang. Warna-warna yang indah itu bahkan diakui oleh bangsa lain. Bangsa ini sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang ramah, dan sangat menghormati orang lain tanpa pandang bulu. Namun, kini bangsa besar ini seakan semakin meregang persatuannya hanya karena perbedaan. Tatapan sinis hingga melotot tak jarang dilontarkan satu sama lain, kepada saudara sebangsa sendiri. Tak jarang konflik-konflik kecil berubah menjadi besar, menjadi api yang akhirnya menghanguskan semangat persaudaraan dan persatuan.

Perbedaan serta keragaman di bumi Indonesia ini merupakan salah satu ketetapan Allah subhanahuwata’ala. Tentunya kita harus #meyakinimenghargai sesuatu yang telah menjadi ketetapan Allah subhanahuwata’ala itu. Bahkan Allah subhanahuwata’ala berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 13 yang artinya “dan kami menjadikan kamu berbagai bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal”.

Dari ayat tersebut dapat terlihat bahwa segala perbedaan yang ada tidak menyurutkan kita untuk saling mengenal, dan berhubungan satu sama lain. Melakukan sebuah hubungan atau interaksi di dalam bangsa yang sangat beragam ini bukanlah suatu hal yang mudah, terlebih dengan isu perbedaan pendapat yang saat ini semakin mudah disulut oleh oknum-oknum tertentu, yang dengan sengaja memecah belah bangsa ini untuk kepentingan pribadi atau golongan.

Banyaknya informasi yang dengan mudah didapatkan pada era milenial ini membuat semakin banyak masyarakat yang kritis. Kebebasan mengemukakan pendapat lebih mudah didapatkan oleh masyarakat saat ini. Tak heran, semakin bebas dan maraknya opini-opini masyarakat banyak sekali menimbulkan gesekan-gesekan antar pengemuka opini tersebut.

Perbedaan pendapat, perbedaan pandangan politik, perbedaan agama, dan isu SARA lainnya merebak, sehingga bangsa ini ibarat dihujani cobaan isu yang menguji persatuan dan kesatuan. Padahal, sekali lagi perbedaan itu adalah ketetapan Allah subhanahuwata’ala. Akan ada pro dan kontra, hitam dan putih, bahkan akan ada hijau hingga abu-abu. Hal tersebut hanyalah tentang cara pandang yang dilihat, hanyalah tentang jenis kacamata yang dipakai.

Menjadi representasi muslim di era milenial haruslah memiliki kepribadian dan karakter layaknya seorang muslim yang benar-benar berislam. Artinya, menunjukkan segala hal melalui akhlak yang indah, dan adab yang baik. Bukan melalui debat kusir, yang bukannya mendapatkan titik temu, tapi justru menimbulkan kemelut digital ini melakukan debat dan amarah antar saudara sendiri. Terlebih di era debat kusir di media sosial sangat mudah dilakukan. Satu sama lain berkomentar tanpa dilandasi keilmuan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam hal ini, kita harus ingat bahwa meninggalkan debat adalah salah satu sunnah Rasulullah shalallahualaihiwassalam. Jangan terus berlarut-larut mempermasalahkan perbedaan yang ada, sementara kita hanya diam di tempat tanpa ada satu pun yang dilakukan. Padahal bangsa ini akan mendapat rahmat sekaligus menghadapi tantangan besar kala bangsa ini akan mendapatkan bonus demografi di tahun 2020-2030 yakni memiliki jumlah penduduk usia angkatan kerja mencapai 180 juta jiwa. Masyaallah.

Islam adalah rahmatan lil alamin, tidak ada seorang muslim pun yang membantah akan hal itu. Namun, akan jauh lebih baik apabila meyakini islam sebagai rahmatan lil alamin bukan hanya ada dalam hati dan diucapakan melalui lisan, tetapi diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermuamalah, serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Contohnya, menunjukkan perilaku jujur, ramah tamah terhadap sesama, memuliakan tamu, bersikap lemah lembut, tidak mudah marah, bersikap menghargai, memiliki tenggang rasa, tolerasi dan masih banyak lagi.

Banyak hal-hal kecil nan indah yang islam ajarkan, dan hal kecil tersebut jelas akan lebih memberikan manfaat dan perubahan yang besar dibanding harus berdebat dan mempermasalahkan perbedaan hanya karena egoisme sendiri. Adab dan akhlak yang indah tentunya lebih menjadi bukti konkret bahwa islam benar-benar rahmat bagi semesta alam. Bukankah sebaik-baiknya dakwah adalah dengan memberi teladan? Buatlah perubahan yang bermaslahat bagi umat. Bukan dengan menunjukkan urat-urat leher dan dahi serta wajah merah padam. Dengan adab dan akhlak maka memancarlah cahaya islam ke seluruh alam.

Kita tidak bisa memaksa orang lain memakai kacamata yang kita pakai, begitupun sebaliknya. Maka, kita harus menghargai, membuka mata dan hati bahwa insan di bumi Allah ini sungguh beragam. Jadikanlah kacamata yang kita pakai mampu melihat indahnya warna-warni negeri ini. Luaskanlah pandangan, dan bukakanlah pikiran. Gunakanlah kacamata kita dengan bijak.

Foto: Karya Abdul Wahid Shofazaudi (Finalis Foto Kompetisi Milenial Islami 2018)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *